intensiSudah menjadi tradisi bertahun-tahun, Gua Maria Kerep Ambarawa mengadakan Novena Bunda Maria. Novena tahunan ini diadakan setiap Minggu ke II dalam bulan, mulai dari bulan September sampai dengan Mei tahun berikutnya. Penyelenggara Novena adalah paguyuban atau kelompok organisasi massa Katolik atau organisasi gerejawi atau juga kelompok-kelompok devosi, yang bekerja sama dengan Panitia setempat dan Panitia Pengelola Gua Maria Kerep Ambarawa. Tercatat organisasi atau kelompok yang pernah melaksanakan novena adalah Wanita Katolik Republik Indonesia DPD Jateng, Marriage Encounter (ME) Distrik Semarang, Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) KAS, Gabungan Kelompok-Kelompok Kategorial KAS, Komunitas Hidup Kristiani (KHK) Indonesia.

Novena periode tahun 2002-2003, pelaksananya adalah kelompok devosi Para Pekerja Gunung Karmel dari Garabandal yang ada di Semarang. Pelaksana untuk periode 2003-2004 adalah WKRI DPD Jateng. ME Distrik Semarang menjadi pelaksana periode tahun 2004-2005. Tahun 2005-2006 novena dilaksanakan oleh panitia Kodok (Kelompok Doa Keuskupan Agung Semarang). Untuk periode tahun 2006-2007 dilaksanakan oleh PDKK KAS. Dan pada tahun 2007-2008 dilaksanakan oleh panitia dari kelompok ME Distrik Semarang. Sedangkan tahun 2008-2009 oleh WKRI. Terakhir 2009-2010 oleh Jaringan KODOK. Selanjutnya untuk Novena 2010-2011 oleh ME Distrik Semarang, dengan tema: 'Bersama Bunda Maria Kita Bersyukur Dengan Terlibat dan Berbagi Berkat'.

Dalam pelaksanaannya paguyuban-paguyuban tersebut dibantu oleh kelompok lain seperti Pemuda Katolik, PMKRI, Legio Maria, Mudika, Pramuka, Taruna Akpol, Campus Ministry UNIKA dan kelompok atau lingkungan berbasis paroki se-Keuskupan Agung Semarang.

Tema-tema novena setiap periode kendati disebut Novena Bunda Maria tidak selalu tentang Maria. Tema-tema tersebut bisa terkait dengan kepentingan pastoral Keuskupan yang sedang trend, seperti Novena periode tahun 2001-2002 yang bertema 'Kaum Muda Menghadapi Pergolakan Hidup Beriman'. Hal ini didasarkan pada penetapan tahun 2001 sebagai Tahun Pemuda di KAS. Tema lain bisa juga terkait dengan pengembangan devosi tertentu, seperti Novena periode tahun 2002-2003 yang bertema 'Pertobatan yang diminta oleh Bunda Maria'. Tema ini sesuai dengan pesan-pesan Bunda Maria dalam penampakannya di Garabandal, Spanyol.

pujianKegiatan Novena di Gua Maria Kerep Ambarawa yang sudah berlangsung selama ini diawali dengan puji-pujian nyanyian rohani pada pukul 08.00. Pada saat puji-pujian dilambungkan, umat diberi kesempatan menerima Sakramen Tobat. Pengakuan dosa ini dilayani oleh Romo pendamping rohani sejak pukul 08.30. Pada pukul 09.00 diadakan doa Rosario sampai pukul 09.30. Setelah itu dimulai Ekaristi Novena sampai kurang lebih pukul 11.30. Ekaristi ditutup dengan Pentahtaan dan Berkat Sakramen Mahakudus.

Pada Novena periode 2002-2003 ditambahkan acara pemberkatan anak-anak dan adorasi Sakramen Maha Kudus di tempat ruang Serba Guna. Acara Novena selesai seluruhnya pukul 12.30.

Ada hal yang menarik saat penerimaan Sakramen Tobat berlangsung. Ternyata cukup banyak umat yang datang dengan semangat pertobatan yang besar. Jika di gereja paroki pada hari Minggu hanya sedikit atau hampir tidak ada yang datang mengaku dosa, tidaklah demikian halnya di GMKA. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk melayani pengakuan dosa. Bahkan saat menjelang Natal atau Paskah bisa mencapai tiga jam. Bahkan kadang-kadang ada yang datang dan berkata, "Romo, saya tidak Katolik tetapi ingin mengaku dosa." Ini menunjukkan bahwa yang datang bernovena tidak seluruhnya umat Katolilk.

Perayaan Ekaristi Novena selalu dipersembahkan oleh para Imam yang selalu berganti-ganti. Ini bertujuan untuk menambah wawasan bagi umat dan memberi suasana baru saat homili. Namun demikian nampaknya sebagian besar umat tidak mempersoalkan siapa Imam yang memimpin Ekaristi dan dari kelompok mana yang menyelenggarakan novena tersebut. Bahkan dari tahun-ke tahun antusiasme umat untuk menghadiri dan mengikuti Ekaristi Novena semakin bertambah. Hal ini tampak dari jumlah buku panduan dan jumlah hosti yang disediakan. Buku panduan misa yang disediakan pada novena awal bisa mencapai 6.000 eksemplar. Selanjutnya pada penutupan novena di bulan Mei yang dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Semarang, buku panduan yang disediakan bisa mencapai 7.500 eksemplar.

Ratusan intensi

Tradisi mohon Intensi Misa pada acara Novena juga cukup besar, bisa mencapai 250 intensi. Dengan sekian banyak intensi, agaknya sulit dirujukkan dengan ketentuan hukum liturgi tentang ketentuan jumlah intensi misa yang boleh diintensikan dalam satu misa. Kalaupun diperkenankan satu misa untuk banyak intensi yang berjumlah 250-an akan memakan banyak waktu yang sangat lama.

Untuk menanggapi masalah ini, pada tahun 2000 atas permohonan dari Panitia Novena, Bapak Uskup Agung Semarang mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam brosur tertanggal 6 Oktober 2002. Inti kebijakan itu adalah bahwa intensi-intensi misa tersebut akan dipersembahkan dalam misa oleh imam-imam yang bersedia ditugaskan untuk hal itu di tempat-tempat yang berbeda di seluruh Keuskupan Agung Semarang. Sumbangan intensi untuk masa sekarang ini dipersembahkan kepada YSS (Yayasan Sosial Soegijapranata).

Secara teknis Tim Penyelenggara novena mengelompokkan intensi-intensi tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu Permohonan, Ucapan syukur, dan Doa untuk arwah. Pada awal misa, intensi dari masing-masing kelompok itu disebutkan oleh imam atau wakilnya.

Selain itu semestinya kita perlu lebih mengandalkan kerahiman Tuhan yang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Kiranya Tuhan dengan penyelenggaraan IllahiNya sudah melihat dan memperhatikan niat baik seseorang yang sungguh-sungguh mengajukan ujud misa.

Keistimewaan Bunda Mariatradisi

Orang beriman percaya bahwa Bunda Maria adalah makhluk ciptaan Tuhan seperti manusia lainnya. Namun bedanya, ia memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki manusia biasa. Keistimewaan Bunda Maria yang pertama adalah bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa, dan yang kedua adalah bahwa Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan raganya. Kedua keistimewaan ini menjadi bingkai dari banyak keistimewaan lainnya.

Dogma Maria bebas dari dosa asal ini diresmikan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854. Sejak saat pertama dikandung, Perawan Maria yang amat bahagia terlindung (terpelihara) bebas dari segala noda kesalahan. Semua keistimewaan ini berasal dari pihak Allah yang Maha Kuasa, berdasarkan jasa Kristus Yesus Juru selamat umat manusia. Dogma tersebut terus terpelihara dan dinyatakan berulang kali sampai Konsili Vatikan II (LG 56,59).

Sedangkan dogma Maria Diangkat ke Surga diresmikan oleh Paus Pius XII pada tahun 1950: Maria Bunda Allah dan Perawan tetap yang tak bemoda, diangkat dalam kemuliaan Surgawi dengan jiwa dan raga setelah ia menyelesaikan jalan hidupnya di bumi.

Dogma tersebut dinyatakan kembali dalam Konsili Vatikan II (LG 59). Semangat yang ada di balik dogma tersebut, yaitu suatu keyakinan oleh karena Maria dikandung tanpa noda, maka hidupnya senantiasa dalam iman yang sempurna, menunjukkan relasi yang penuh dengan Allah. Maka sudah selayaknya ia diangkat ke surga pada saat mengakhiri hidupnya di dunia. ltu berarti Maria sudah mengalami kebangkitan badan, yaitu kemuliaan yang lengkap dan abadi.

Maria Mediatrix (Pengantara)

Di antara gelar-gelar yang dikenakan pada Maria, salah satu yang paling menyentuh hati adalah Maria sebagai pengantara manusia kepada Kristus dan Allah. Terutama bagi orang beriman yang menaruh harapan akan terkabulnya permohonan. Disadari bahwa Maria tidak hanya berperan ketika menyertai Yesus putranya dalam karya penyelamatan-Nya. Namun sekarang ketika sudah mulia di surga Maria pun tetap berperan nyata bagi umat manusia.

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa setelah diangkat ke surga Maria tidak menanggalkan tugas penyelamatan Yesus Kristus. Dengan cinta seorang ibu, ia prihatin dengan saudari-saudara anaknya yang kini masih musafir. Oleh karena itu Santa Perawan Maria menyandang beberapa gelar: Pengacara, Pembantu, Penolong dan Pengantara (Mediatrix) (LG 62, 50).

Peran nyata Maria sebagai pengantara berarti mencakup peran sebagai pengacara (pembela), pembantu dan penolong di hadapan Allah. Kita ingat akan peran Maria yang nyata seperti dikisahkan dalam Peristiwa Kana (Yoh 2:1-11). Berkat peran pengantara Maria sebagai seorang ibu Yesus, mukjizat air menjadi anggur terjadi. Padahal awalnya Yesus berkata, "WaktuKu belum tiba!" Toh akhimya Yesus berkenan membuat mukjizat juga. Peran nyata yang produktif semacam itu yang menjadi keyakinan sekaligus dambaan orang beriman setiap kali berdoa mohon pengantaraan Bunda Maria.

Maria pola bagi Gereja

Bagi umat beriman Maria adalah pribadi yang sempurna, kudus tanpa dosa dan penuh iman. Selain itu, Maria sudah mulia di surga jiwa dan raganya. Suatu keadaan yang belum pernah dialami oleh siapapun kecuali Maria dan Nabi Elia. Karena itu perjalanan hidupnya diwarnai dengan keutamaan-keutamaan dan kemuliaan. Keutamaannya yang unggul adalah dalam sikap imannya terhadap kehendak dan rencana Allah.

Keutamaannya adalah keutamaan yang bisa dicontoh siapapun. Misalnya sikap imannya ketika mendengar warta malaikat bahwa ia akan mengandung Anak Allah yang hendaknya dinamai Yesus. Ia mengandung bukan karena berhubungan dengan seorang pria, seperti lazimnya, tetapi karena Roh Kudus dan naungan Kuasa Allah yang Maha Tinggi. Dan Maria berkata, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:37). Sikap iman yang tunduk dan pasrah kepada kehendak Allah seperti itu bisa kita tiru seraya berusaha untuk melawan ego kita yang sering cenderung untuk menuruti kehendak kita sendiri. Di samping itu dalam diri Santa Perawan Maria, Gereja telah mencapai kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (Ef 5:27), sesuatu yang oleh kaum beriman Kristiani pada umumnya masih menjadi perjuangan, yaitu mengalahkan dosa dan mengembangkan kesucian.

Santa Perawan Maria juga sudah mencapai kemuliaan yang sempurna karena ia sudah diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Suatu keberadaan manusia dalam dunia keabadian setelah meninggalkan dunia fana ini. Keberadaan dalam kemuliaan abadi seperti itu bagi Gereja masih merupakan suatu misteri, dicari dan dituju. Karena itu Santa Perawan Maria menjadi pola bagi Gereja, yakni model bagi para anggota Gereja dalam mencapai kesempurnaan keselamatan.